Minggu, 01 November 2015

perilaku organisasi "persepsi"

A.    Pengertian Persepsi

Menurut Kreitner dan Kinicki (2010: 185) persepsi adalah proses kognitif yang memungkinkan kita menginterpretasikan dan memahami sekitar kita. Dikatakan pula sebagai proses menginterpretasikan suatu lingkungan. Orang harus mengenal objek untuk berinteraksi sepenuhnya dengan lingkungan mereka.

Menurut McShane dan Von Glinow (2010: 68) persepsi adalah proses menerima informasi membuat pengertian tentang dunia di sekitar kita. Hal tersebut memerlukan pertimbangan informasi mana yang perlu diperhatikan, bagaimana mengkategorikan informasi, dan bagaimana menginterpretasikannya dalam kerangka kerja pengetahuan kita yang telah ada.

Menurut Robbins dan Judge (2011: 202) persepsi adalah suatu proses dengan mana individual mengorganisir dan menginterpretasikan tanggapan kesan mereka dengan maksud memberi makna pada lingkungan mereka. Tetapi apa yang kita rasakan dapat berbeda secara substansial dari realitas objektif.

Maka, dapat dirumuskan bahwa pada hakikatnya persepsi adalah suatu proses yang memungkinkan kita mengorganisir informasi dan menginterpretasikan kesan terhadap lingkungan sekitarnya.

B.     Faktor Memengaruhi Persepsi


Orang-orang dapat melihat pada sesuatu yang sama, namu merasakan hal yang berbeda. Ada beberapa faktor yang membentuk dan kadang-kadang mendistorsi persepsi. Faktor tersebut adalah the perceiver, the object ata the target yang dirasakan dan konteks the situation di mana persepsi dibuat. Factor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut diikemukakan oleh Robbins dan Judge bahwa persepsi dibentuk oleh tiga faktor, yaitu: (1) perceiver, orang yang memberikan persepsi, (2) target, orang atau objek yang menjadi sasaran persepsi, dan (3) situasi, keadaan pada saat persepsi dilakukan.

Faktor perceiver mengandung komponen: (a) attitutes (sikap), (b) motives (motif), (c) interest (minat atau kepentingan), (d) experience (pengalaman), dan (e) expectations (harapan). Faktor target mengandung komponen: (a) novelty (sesuatu yang baru), (b) motion (gerakan), (c) sounds (suara), (d) size (besaran atau ukuran), (e) background (latar belakang), (f) proximity (kedekatan), dan (g) similarity (kesamaan). Sedangkan faktor situasi mengandung komponen: (a) time (waktu), (b) work setting (pengaturan kerja), dan (c) social setting (pengaturan sosial).

Apabila kita melihat target dan berusaha menginterpretasikan apa yang kita lihat, interpretasi kita sangat dipengaruhi oleh karakteristik personal kita. Karakteristik yang mempengaruhi persepsi kita termasuk sikap, kepribadian, motif, kepentingan, pengalaman masa lalu, dan harapan. Sebaliknya, karakteristik dari target yang kita amati juga memengaruhi apa yang kita rasakan. Orang yang suka berbicara keras mungkin akan lebih diperhatikan oleh kelompok daripada orang yang pendiam. Demikian juga orang yang sangat menarik dan tidak. Karena kita tidak menempatkan target dalam isolasi, hubungan antara target dan latar belakangnya juga memengaruhi persepsi.

Konteks juga penting. Pada waktu kita melihat objek atau kejadian, dapat memengaruhi perhatian kita, seperti lokasi, sinar, panas, atau setiap sumber faktor situasional. Walaupun perceiver dan target tidak berubah, situasi dapat berubah.

C.    Proses Persepsi


Persepsi terjadi melalui suatu proses, dimulai ketika dorongan diterima melalui pengertian kita. Kebanyakan dorongan yang menyerang pengertian kita disaring, sisanya diorganisir dan diinterpretasikan. Proses yang menyertai pada beberapa informasi yang diterima oleh pikiran kita dan mengabaikan informasi lainnya dinamakan selective attention atau selective perception. Selective attention dipengaruhi oleh karakteristik orang atau objek yang dipersepsikan, terutama besaran, intensitas, gerakan, pengulangan, dan keaslian. Selective attention dipicu oleh sesuatu atau orang yang mungkin di luar konteks, seperti mendengar seseorang berbicara dengan aksen asing. 

D.    Teori Atribusi/Kelley’s Model

Apabila kita mengamati orang, kita berusaha menjelaskan mengapa mereka berperilaku dengan cara tertentu. Persepsi dan pertimbangan kita terhadap tindakan orang akan sangat dipengaruhi oleh asumsi yang kita buat tentang keadaan internal orang. Teori atribusi berusaha menjelaskan cara kita mempertimbangkan orang secara berbeda, tergantung dari arti atau makna yang kita hubungkan pada perilaku tertentu. Apabila kita mengamati perilaku individu, kita berusaha mempertimbangkan apakah disebabkan oleh faktor internal atau eksternal.

Perilaku yang disebabkan faktor internal adalah faktor yang kita yakini di bawah control pribadi individu. Sedangkan perilaku yang disebabkan faktor eksternal adalah apabila yang kita bayangkan adalah situasi memaksa individu melakukannya. Tetapi pertimbangan terutama bergantung pada tiga faktor, yaitu: (a) distinctiveness, menunjukkan bahwa individu berperilaku berbeda dalam situasi yang berbeda, (b) consensus, menunjukkan bahwa individu menghadapi situasi yang sama dan merespon dengan cara yang sama, dan (c) consistency, tindakan orang akan terjadi apabila orang merespon dengan cara yang sama sepanjang waktu.
                                  
Proses atribusi adalah proses persepsi dalam menentukan apakah perilaku atau kejadian yang diamati disebabkan untuk sebagian besar oleh faktor internal atau eksternal. Sebagai faktor internal termasuk kemampuan dan motivasi orang, sedangkan faktor eksternal termasuk kekurangan sumber daya, orang lain, atau hanya keberuntungan. Sebagai contoh, apabila rekan kerja kita tidak hadir ketika rapat, kita dapat menduga sebagai atribusi internal, seperti rekan kerja kita lupa, kekurangan motivasi atau sebagai atribusi eksternal, seperti kemacetan, emergensi urusan keluarga, atau situasi yang menyebabkan ketidakhadiran.

Atribusi merupakan proses persepsi yang penting karena membentuk hubungan sebab-akibat, dan pada gilirannya memengaruhi bagaimana kita merespon perilaku orang lain dan bagaimana kita bertindak di waktu yang akan datang. Bagaimana kita bereaksi terhadap kinerja buruk rekan kerja tergantung pada atribusi internal dan eksternal kita terhadap kinerja tersebut.

A.    Kesalahan Atribusi

Kebanyakan orang tidak sempurna dalam membuat atribusi. Bias yang terjadi dinamakan Fundamental Atribution Error, yang menunjukkan kecenderungan kita untuk melihat orang daripada situasi sebagai penyebab utama perilaku orang. Apabila pekerja terlambat bekerja, pengamat lebih suka menyimpulkan bahwa orang tersebut malas daripada menyadari bahwa faktor eksternal mungkin menyebabkan perilaku tersebut. kesalahan atribusi mendasar terjadi karena pengamat tidak dapat dengan mudah melihat faktor eksternal yang membatasi perilaku seseorang. Kita tidak melihat kemacetan lalu lintas yang menyebabkan orang tersebut terlambat.

Kesalahan atribusi lain adalah Self-Serving Bias, yang merupakan kecenderungan menghubungkan hasil kita yang menyenangkan pada faktor internal dan kegagalan kita pada faktor eksternal. Secara sederhana, kita mengambil kredit atas keberhasilan kita dan menyalahkan orang lain atau situasi untuk kesalahan kita. Dalam laporan tahunan, misalnya, eksekutif terutama menunjukkan kualitas pribadi mereka sebagai alasan keberhasilan perusahaan dan pada faktor eksternal sebagai alas an untuk kegagalan perusahaan.

Folkman (2006: 25) menegaskan bahwa kita cenderung merasa bahwa apabila mengalami kegagalan adalah karena situasi. Tetapi kita melihat kegagalan orang lain adalah karena kurangnya usaha, kemampuan atau karakternya. Kenyataan tersebut kemungkinan tidak selalu benar dan menunjukkan kemungkinan kesalahan atribusi.

B.     Jalan Pintas dalam Mempertimbangkan Orang Lain

Seringkali kita menggunakan jalan pintas dalam mempertimbangkan orang lain. Teknik ini sering sangat berharga, karena memungkinkan kita membuat persepsi akurat dengan cepat dan memberikan data sahih untuk membuat prediksi. Tetapi hal ini tidak bebas dari kesalahan dan dapat membuat kita dalam kesulitan. Memahami jalan pintas ini dapat membantu untuk mengenal ketika hasilnya dapat membuat penyimpangan signifikan. Jalan pintas dalam mempertimbangankan orang lain tersebut dikenal dengan istilah Stereotyping.

 Greenberg dan Baron (2003: 44) memberikan pengertian stereotipe sebagai keyakinan bahwa semua anggota kelompok spesifik berbagi sifat yang sama dan cenderung berperilaku dengan cara yang sama. Pengertian senada diberikan oleh Kreitner dan Kinicki (2010: 193) yang menyatakan bahwa stereotipe adalah serangkaian keyakinan individu tentang karakteristik atau atribut dari suatu kelompok. Stereotipe tidak selalu negatif. Sedangkan McShane dan Von Glinow (2010: 72) memberikan definisi stereotyping adalah merupakan proses menetapkan sifat pada orang atas dasar keanggotaan mereka dalam kategori sosial.

Keyakinan bahwa insinyur adalah baik dalam matematika pasti merupakan bagian stereotype. Stereotype mungkin akurat atau tidak. Insinyur mungkin kenyataannya lebih baik dalam matematika daripada orang pada umumnya. Pada umumnya, karakteristik stereotype dipergunakan untuk membedakan kelompok orang tertentu dari kelompok lainnya.

Penting untuk diingat stereotype adalah komponen fundamental dari proses persepsi dan kita menggunakannya untuk membantu proses sejumlah besar informasi yang menghujani kita setiap hari. Karena bukannya immoral atau buruk mempunyai stereotype. Tetapi, penggunaan stereotype yang tidak tepat dapat membawa pada keputusan yang buruk, dapat menciptakan hambatan bagi wanita, orang tua, orang berwarna, dan orang tuna daksa, dan dapat merusak loyalitas dan kepuasan kerja.
Stereotype mengandung tiga elemen. Pertama, kita mengembangkan kategori social dan menempatkan sifat yang sulit untuk diamati. Misalnya mahasiswa membentuk stereotype bahwa guru besar adalah cerdas dan pelupa. Kedua, kita menempatkan orang pada satu atau lebih kategori social atas dasar informasi yang mudah diamati tentang mereka, seperti gender, penampilan atau lokasi fisik mereka. Ketiga, orang kelihatannya seperti menjadi bagian kelompok stereotype ditentukan sifat yang tidak dapat diamati berkaitan dengan kelompok.

Stereotype dilakukan melalui empat proses, yaitu:

1.      Mengkategorikan orang dalam kelompok menurut berbagai kriteria seperti: gender, umur, ras, dan pekerjaan.
2.      Menduga bahwa semua orang dalam kategori tertentu memiliki sifat atau karakteristik yang sama.
3.      Membentuk harapan terhadap orang lain dan menginterpretasikan perilaku mereka menurut stereotype kita.
4.      Stereotype dipelihara dengan (i) memperkirakan terlalu tinggi frekuensi perilaku stereotyping ditunjukkan oleh orang lain, (ii) menjelaskan secara tidak benar perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan, dan (iii) membedakan individu minoritas dari diri sendiri.

C.    Kesalahan Persepsi

Apabila seseorang melihat orang lain maka persepsinya terhadap orang tersebut mungkin saja salah atau keliru. Dalam hal demikian telah terjadi kesalahan persepsi. Di bawah ini kemungkinan bentuk kesalahan dalam persepsi kita terhadap seseorang:

1.      Fundamental Attribution Error
Merupakan kesalahan persepsi karena kecenderungan kita menghubungkan tindakan orang lain pada sebab internal seperti sifatnya, sementara untuk sebagian besar mengabaikan faktor eksternal yang mungkin juga mempengaruhi perilaku.

2.      Halo Effect
Merupakan kesalahan persepsi karena kesan umum kita tentang orang biasanya didasarkan pada satu karakteristik yang ditentukan sebelumnya, sehingga mewarnai persepsi kita terhadap karakteristik lain dari orang tersebut.
3.      Similar-to-me Effect
Kecenderungan orang merasa atau menganggap enteng atau ringan orang lain yang diyakini sama dengan dirinya dalam setiap cara yang berbeda. Sebaliknya, bias terjadi karena kecenderungan orang merasa lebih menyukai orang lain yang seperti mereka daripada mereka yang tidak sama.

4.      Selective Perception
Kecenderungan memfokus pada beberapa aspek lingkungan sementara itu mengabaikan yang lainnya.

5.      First-impression Error
Kecenderungan mendasarkan pertimbangan kita tentang orang lain pada kesan kita sebelumnya tentang mereka. Seringkali cara kita mempertimbangkan seseorang tidak didasarkan semata pada seberapa baik orang tersebut kinerjanya sekarang, tetapi pada pertimbangan awal kita terhadap individu tersebut.

6.      Primacy Effect
Merupakan kesalahan persepsi di mana kita secara cepat membentuk opini tentang orang atas dasar informasi pertama yang kita terima tentang mereka.

7.      Recency Effect
Merupakan kesalahan persepsi di mana informasi paling baru mendominasi perspsi kita terhadap orang lain.

8.      False-consensu Effect
Merupakan kesalahan persepsi di mana kita memperkirakan lebih tinggi terhadap orang lain yang mempunyai keyakinan dan karakteristik sama dengan kita.

9.      Lineancy Effect
Merupakan karakteristik personal yang mengarahkan individu untuk secara konsisten mengevaluasi orang atau objek lain dalam cara sangat positif.

10.  Central Tendency Effect
Merupaka kecenderungan menghindari semua pertimbangan ekstrem dam menilai orang atau objek sebagai rata-rata atau netral.

11.  Contrast Effect
Merupakan kecenderungam mengevaluasi orang atau objek dengan membandingkan mereka dengan karakteristik orang atau objek yang baru saja diamati.

D.    Memperbaiki Persepsi

Kita tidak dapat memintas atau memotong proses persepsi, tetapi harus berusaha untuk memperkecil bias dan distorsi yang ditimbulkan oleh persepsi. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan:

1.      Awareness of Perceptual Biases
Satu cara yang paling jelas dan luas dilakukan untuk mengurangi bias dalam proses persepsi adalah dengan menyadari bahwa bias memang terjadi. Kepedulian terhadap bias persepsi dapat menurunkan bias dengan membuat orang lebih sadar terhadap pikiran dan tindakannya. Tetapi kepedulian hanya mempunyai pengaruh terbatas.

2.      Improving Self-Awareness
Cara yang lebih kuat untuk memperkecil bias persepsi adalah membantu orang menjadi lebih peduli terhadap bias dalam keputusan dan perilakunya sendiri. Kita perlu memahami keyakinan, nila-nilai, dan sikap untuk terbuka dan tidak menyatakan pendapat terhadap orang lain.

3.      Meaningfull Interaction
Kepeduliaan diri dan saling pengertian dapat diperbaiki melalui meaningfull interaction, interaksi yang bermakna. Pernyataan ini didasarkan pada contact hypothesis yang menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu, orang saling berinteraksi satu sama lain akan berkurang rasa prasangka atau bias persepsinya. Interaksi yang bermakna tidak hanya menurunkan kepercayaan pada stereotipe, tetapi juga potensial memperbaiki empati terhadap orang lain, dan karenanya memahami dan sensitif pada perasaan, pikiran dan situasi orang lain.

E.     Aplikasi dalam Organisasi/Implikasi Manajerial

Orang dalam suatu organisasi selalu saling menilai. Manajer harus menilai kinerja pekerjannya. Kita menilai seberapa banyak usaha dilakukan rekan kerja kita untuk pekerjaannya. Apabila seseorang baru bergabung dalam tim, anggota yang lain segera membentuk pendapatnya tentang orang tersebut. Dalam banyak hal, pertimbangan kita mengandung banyak konsekuensi untuk organisasi.
Robbins dan Judge (2011: 208) berpendapat bahwa penggunaan jalan pintas persepsi dalam organisasi terjadi dalam kegiatan:

1.      Employment Interview
Kebanyakan di antara kita dalam menerima pekerjaan melalui wawancara. Tetapi pewawancara membuat pertimbangan bersifat persepsi yang sering tidak akurat dan membuat kesan awal dengan cepat menerobos. Apabila kesan pertama bersifat negative maka bobotnya cenderung menjadi lebih berat dalam wawancara daripada apabila informasi yang sama diperoleh belakangan.

2.      Performance Expectation
Orang berusaha memvalidasi persepsinya atas realitas bahkan ketika mereka salah. Perilaku orang ditentukan oleh harapan orang lain. Apabila manajer mengharapkan hal besar dari orangnya, mereka tidak mungkin menurunkannya. Sama halnya, apabila dia mengharapkan kerja minimal, mereka mungkin mencapai harapan yang rendah.

3.      Performance Evaluation
Evaluasi kerja sangat tergantung pada proses persepsi. Masa depan pekerjaan sangat terikat pada penilaian, promosi, kenaikan upah dan kelanjutan kerja adalah hasil yang nyata. Meskipun penilaian dilakukan secara objektif, banyak pekerjaan dalam terminology subjektif.

Sedangkan menurut Kreitner dan Kinicki (2010: 190) menunjukkan implikasi persepsi dalam masalah manajerial terdapat dalam kegiatan:

1.      Hiring
Pewawancara membuat keputusan berdasar pada kesan tentang bagaimana pelamar menyesuaikan dengan persyaratan pekerjaan yang dirasakan. Sayangnya, banyak keputusan dibuat berdasarkan implicit cognition. Implicit cognition mencerminkan setiap pemikiran atau keyakinan yang secara otomatis diaktifkan melalui memori tanpa kepedulian secara sadar.

2.      Performance Appraisal
Gambaran mental yang salah  tentang apa yang merupakan kinerja baik atau buruk dapat membawa penilaian kinerja tidak akurat, yang menggerogoti motivasi kerja, komitmen, dan loyalitas.

3.      Leadership
Evaluasi pekerjaan terhadap efektivitas pemimpin sangat dipengaruhi oleh pandangan mereka tentang pemimpin yang tidak baik atau buruk. Pemimpin akan menghadapi waktu yang sulit untuk memengaruhi pekerja apabila dia menunjukkan mengandung perilaku dalam pandangan pekerja tentang pemimpin yang buruk.

4.      Communication and Interpersonal Influence
Manajer perlu mengingat bahwa persepsi sosial adalah proses menyaring yang dapat mendistorsi komunikasi, baik yang masuk maupun yang keluar. Karena orang menginterpretasikan komunikasi lisan dan tertulis dengan menggunakan gambaran mental yang dikembangkan melalui pengalaman masa lalu, kemampuan kita memengaruhi orang lain dipengaruhi oleh informasi terdapat dalam gambaran orang lain berdasarkan umur, gender, etnis, penampilan, pidato, kebiasaan, kepribadian, dan karakteristik personal lainnya.

5.      Counterproductive Work Behaviors
Pekerja menunjukka berbagai perilaku kerja kontra produktif ketika merasa bahwa mereka diperlakukan tidak adil. Sangat penting bagi manajer memperlakukan pekerja secara jujur, dengan mengingat bahwa persepsi tentang kejujuran adalah dilihat mata.

6.      Physical and Psychological Well-Being
Bias yang bersifat negatif dapat mengarah baik pada masalah fisik maupun psikologis. Persepsi tentang ketakutan, menyakiti, dan kegelisahan berkaitan dengan serangan terhadap kesakitan, kemangkiran, dan keinginan untuk keluar. Kita harus berusaha menghindari kecenderungan memberikan perhatian terlalu banyak terhadap pemikiran negatif.

7.      Designing Web Page
Penelitian mulai menggali apa yang menarik perhatian pemirsa pada web page dengan menggunakan peralatan eye-tracking canggih. Penelitian ini membantu organisasi mengeluarkan uangnya dengan bijak ketika merancang web page.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar