Sabtu, 14 November 2015

determinasi masyarakat informasi, MBO dan konsep,fungsi komunikasi organisasi

Hai sobat blog sekalian, terkait dengan pembahasan kali ini kita akan banyak-banyak membahas tentang komunikasi, yang diantaranya juga mencakup tentang determiasi masyarakat informasi, MBO ( manajemen by objektif ), serta konsep dan fungsi komunikasi organisasi.
Wah dengan pembhasn kali ini teman-temn mungkin akan bertanya, apa sih determinasi itu ?, bagaimana sih pelaksanaan MBO itu ? serta seperti apa konsep dan fungsi dari komunikasi organisasi itu ?.

Nah dengan munculnya pertanyaan sperti diatas maka mari kita simak bersama penjelasan di bawah ini.

1.        Determinasi masyrakat informasi adalah seperti yang dikemukakan oleh alfin tofler bahwa pada abad ke-21 nanti akan menjadi abad informasi yang mengglobal dan melanda setiap negara. Jadi pada abad ini manusia secara keseluruhan adalah masyatrakat informasi dimana setiap atau segala aktifitasanya akan dengan mudah mendapatkan informasi dengan semakin canggihnya perkembangan teknologi.

2.       MBO (manajemn by objectif ) adalah proses dimana pihak manajer tingkat bawah dan tingkat atas bersama-sama mengidentifikasi atau sebagai tolak ukur pekerjaan bawahannya berdasarkan tujuan organisasi.

Dengan pernyataan diatas maka timbul pertanyaan, apa sih hubungannya PR dan MBO  ? jadi hubungan antara PR-MBO ini sangatlah penting, mengapa ? karena PR merupakan slah satu penyanggah organisasi  yang tujuannya untuk mencapai citra organisasi.
Manurut Charles dalam buku ang berjudul  the rational manager menyebutkan ada 3 bentuk dari specipic PR-MBO yakni :

a.       Interim objectif
b.       Problem corrective and prevention
c.        Adaptive objective

3.       Konsep dan fungsi manajemen komunikasi organisasi. dalam hal ini ada empat assumsi pokok dalam memahami komunikasi diantaranya :

a.       Komunikasi merupakan suatu proses
b.       Komunikasi adalah suatu pertukaran pesan
c.        Komunikasi merupakan interaksi yang bersifat multidimensional
d.       Komunikasi merupakan interasksi yang mempunyai tujuan.

Konsepsi komunikasi, komunikasi tidak hanya dimaknakan sempit akan tetapi komunikasi ini bersifat multi makna, artinya banyak makna yang dapat terkandung dalam komunikasi, diantaranya :

a.       Komunikasi sebagai proses social
b.       Komunikasi sebagi peristiwa
c.        Komunikasi sebagai ilmu
d.       Komunikasi sebagai kiat-kiat dan keterampilan khusus.

Sedangkan manajemen komunikasi organisasi bermakna sebagai basis untuk mengadakan kerja sama interaksi dan menbarkan pengaruh dalam manajemen organisasi, missal : dalam pegambilan keputusan, berperan dalam proses pengawasan, untuk menetapkan sasaran dan tujuan.
Fungsi dari komunikasi organisassi di bagi menjadi 2 yaitu :

a.       Produksi dan pengaturan
b.       Sosialisasi dan pemeliharaan.


Ok sampai di situ dulu yah, sampai jumpa lagi…….

Minggu, 01 November 2015

Resume perilaku organisasi

Tugas individu
RESUME PERILAKU ORGANISASI


ERNA NURI WIDIASTUTI
AP 01
1343040001

ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015



Resume perilaku organisasi

1.      Perilaku organisasi adalah sebuah tindakan atau sikap-sikap yang ditimbulkan dalam sebuah organisasi dimana nantinya sikap ini akan berdampak pada respon eksternal untuk menilai bagaimana sebuah organisasi itu berdasarkan tindakan atau sikap yang di ambilnya. Dan mengapa perilaku organisasi ini penting  karena sebuah organisasi merupakan sebuah wadah yang terstruktur sehingga perlu  batasan–batasan berperilaku terhadap seluruh stake holder yang berperan di dalamnya. Model perilaku organisasi ini terbagi atas tiga bagian yaitu  antar individu, kelompok  dan organsasi. Dengan menggunkan model perilaku tersebut kita dapat mengatur ataupun membatasi setiap perilaku yang akan kita lakukan di dalam sebuah organisasi sehingga keselarasan dalam mencapai tujuan itu akan berhasil karena adanya control terhadap individu akan setiap tindakan yang akan diambilnya. Dengan adanya perilaku organisasi, organisasi mampu melihat tantangan dan peluang  yang ada berdasarkan respon balik dari setiap pelayanan yang diberikan organisasi  terhadap pelanggannya. Pelanggan memberikan nilai kepada organisasi terkait denngan pelayanan yang diberikan sehingga perusahaan dapat melihat peluang  ataupun tantangn dari penilaian yang diberika oleh pelanggan jika respon yang diberikan bernilai positif bagaimana organisasi melihat respon itu sebagai peluang. Dan jika respon yang diberikan itu bernilai negative bagaimana organisasi memandang respon itu sebagai tantangan.

2.      Kepribadian adalah  bagaimana seseorang itu tetap konsisten terhadap apa yang dipegangnya, baik itu berupa pemikiran, emosi, dan perilaku yang sesuai dengan karakteristik dari individu  tersebut. Adapun factor-faktor yang dapat memengaruhi kepribadian diantaranya yaitu : keturunan, lingkungan, situasi dan pengalaman hidup di masa lalunya.

3.      Konsep diri adalah membahas tentang apa saya, siapa saya dan bagaimana saya merasa tentang diri saya. Dengan pernyataan ini kita dapat mengetahui bahwa konsep diri adalah pemahaman mengenai diri peribadi. Adapun karakteristik dari konsep diri yakni sebagai berikut, mengetahui identitas diri, dan mengetahui identitas socialnya. Maksudnya adalah ketika kita memahami identitas  personal atau diri sendiri  bahwasanya diriya itu mempunyai sesuatu hal yang berbeda dengan yang lain dan memiliki karakteristik tersendiri ketika ia berhubungan dengan indivdu yang lain. Sedangkan identitas sosialnya ia mengetahui siapa dirinya dengan hubungan yang terjalin didalam sebuah kelompok maupun organisasi.

4.      Niali-nilai terkait dengan bagaimana kita mengikuti struktur organisasi maksudnya ialah ada hal-hal yang kita junjung tinngi baik itu berdasarkan kultur organisasi sehingga personal dalam sebuah organisasi itu tetap bersiteguh dalam menjunjung tinggi nilai-nilai yang di pegangnya. Ada tiga tipe konflik nilai yaitu : ada nilai konflik yang di timbulkan di dalam individu itu sendiri, ada nilai konflik yang di timbulkan dari sesama individu itu sendiri dan ada nilai konflik yang di timbulkan oleh individu dengan kelopok maupun organisasi .

5.      Sikap adalah kecenderungan seseoarang dalam mengekspresikan suatu hal baik itu dengan cara yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan secara berturut-turut terkait dengan objek tertentu. Ada beberapa komponen sikap diantaranya yaitu komponen afektif , kognitif dan behavior.

6.      Persepsi adalah pandangan, pendapat atau pemikiran dalam merespon balik informasi yang telah diterimanya. Namun dalam persepsipun tak jarang orang melakukan kesalahan dalam persepsinya misal orang ini baru saja bertemu dengan orang lain lantasan dengan hanya melihat dari wajah dan gerak-gerik yang mencurigakan sementara ia mempersepsikan orang tersebut orang yang jahat sehingga persepsi yang dihasilkan dinyatakan salah karena tidak adanya tinjauan lebih lanjut.

7.      Emosi adalah reaksi bagaimana seseorang menngungkapkan atau menyataka perasaan yang dialaminya terhadap suatu kejadian. Ada banyak pemicu timbulnya emosi diantaranya diri sendiri, lingkungan, stress dan lain sebagainya.

8.      Kemampuan adalah bagaimana seseorang dapat menunjukkan kapasitas dirinya terhdap sekitar yang dinyatakan bahwa kapsitas itu selalu melekat dengan dirinya. Ada beberapa macam kemapuan yakni kemampuan intelektual,  kognitif, fisik dan emosional. Adapun dampak yang ditimbulkan dari kemampuan yaitu kemampuan seseorang biasanya akan berdampak pada kinerja yang dilakukan. Contohnya jika seseorag mempunyi kemampuan khusus di bidang teknologi  lalu ia ditempatkan di bidang perindustrian maka akan menimbulkan dampak yang buruk karena adanya ketidak sesuaian antara jenis kemampuan yang dimilikinya dengan jenis pekerjaan yang dilakoninya begitu pula sebaliknya katika ia mampu menyamakan antara kemampuan dan kerjanya maka akan menghasilkan dampak yang baik bagi organisasi maupun dirinya.

9.      Motivasi adalah keinginan untuk bertindak. Maksunya ialah ada dorongn di dalam dirinya dalam melakukan suatu tindakan. Ada beberapa hal yang dapat medorong munculnya motivasi yaitu motivasi dalam berprestasi, maksudnya ada keinginan kuat untuk mencapai sebuah prestasi sehinnga termotivasi dalam pencapaiannya. Motifasi untuk berafiliasi, maksudnya ialah ada dorongan untuk melakukan hubungan dengan orang lain atas dasar sosialnya. Dan motivasi akan kekuasaan, maksudnya ialah ada dorongan untuk memengaruhi seseorang , melakukan pengawasan dan mengubah situasi.

10.  Kepuasan kerja adalah ada kesenangan yang ditimbulkan dari hasil kerja yang telah dilaluinya. Ada beberapa dampak yang ditimbulakan dari ketidak puasan kerja yakni : tidak terpenuhinya hak dari para pekerja, kurangnya motivasi serta adanya pemimpin yang tidak mampu memandang situasional dari bawahannya.

11.  Pembelajaran adalah perubahan yang relative permanen dalam perilaku yan terjadi sebagai hasil pengalaman. Ada beberapa tipe pengetahuan  yakni : sejenis pengetahuan yang mampu kita kembangkan berdasarkan pada suatu kejadian yang kita lihat maupun lalui, dan pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman.

12.  Kelompok kerja adalah kumpulan dari beberapa manusia yang menjalankan atau melaksanakan suatu pekerjaan, serta satu dalam tujuannya dan merasakan diri mereka menjadi sebuah kelompok. Ada dua tipe kelompok yaki : kelompok formal dan informal. Kelompok formal adalah kelompok yang di bangun berdasarkan organisasi sedangkan informal adalah kelompok yang dibangun oleh individu-individu itu sendiri.

13.  Perbedaan kelompok dengan tim kerja adalah berbeda dalam hal pencapaiannya mengapa saya katakan demikian karena kelompok tidak selamanya melakukan kerjasama antara individu satu dengan yang lain sehingga dalam pemenuhannya bisa jadi tidak sejalan akan tertapi kalau tim kerja berbeda karena mereka di dasari dengan sikap fleksibel dan kerja sama antar individu kuat sehinnga lebih memudahkan dalam pencapaian tujuannya.

14.  Kekuasaan, pengaruh dan politik sebelum langsung masuk dalam pembahasan kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu kekuasaan, apa itu pengaruh dan apa itu polotik. Kekuasaan adalah adanya capur tangan langsung dalam menindaki kejadian di sekitar dalam wilayah dan tempat tertentu. Pengaruh adalah ada dampak yang ditimbulkan sehingga mengubah sesuatu hal. Contoh jika pemimpin baik ataupun bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya itu akan mengubah sikap dari bawahan terhadap atasannya begitu pula sebaliknya. Sedagkan politik adalah suatu tindakan diliuar dari kekuasaan individu itu sendiri.

15.  Konflik dan negosiasi. Berbicara mengenai konflik, konflik dapat timbul dimana saja tak terbatas oleh ruang dan waktu baik itu konflik yang terjadi di dalam diri kita sendiri, antar individu maupun kelompok. Sedangakan negosiasi adalah tindakan berdiskusi sebelum menentukan akahir dari sebuah keputusan.

16.  Komunikasi adalah pola hubungan interaksi melaui jalur tatap muka maupun tidak karena berkaitan dengan bagaimana informasi yang ingin kita sampaikan mampu dipahami dengan mudah oleh si lawan bicara atau si penerima sehinnga menimbulkan respon balik dari si pemberi dan penerima pesan.


17.  Kepeminpinan adalah proses dimana seseorang mampu memengaruhi, mengarahkan dan memotvasi seseorang dalam melakukan suatu aktivitas.

perilaku organisasi "persepsi"

A.    Pengertian Persepsi

Menurut Kreitner dan Kinicki (2010: 185) persepsi adalah proses kognitif yang memungkinkan kita menginterpretasikan dan memahami sekitar kita. Dikatakan pula sebagai proses menginterpretasikan suatu lingkungan. Orang harus mengenal objek untuk berinteraksi sepenuhnya dengan lingkungan mereka.

Menurut McShane dan Von Glinow (2010: 68) persepsi adalah proses menerima informasi membuat pengertian tentang dunia di sekitar kita. Hal tersebut memerlukan pertimbangan informasi mana yang perlu diperhatikan, bagaimana mengkategorikan informasi, dan bagaimana menginterpretasikannya dalam kerangka kerja pengetahuan kita yang telah ada.

Menurut Robbins dan Judge (2011: 202) persepsi adalah suatu proses dengan mana individual mengorganisir dan menginterpretasikan tanggapan kesan mereka dengan maksud memberi makna pada lingkungan mereka. Tetapi apa yang kita rasakan dapat berbeda secara substansial dari realitas objektif.

Maka, dapat dirumuskan bahwa pada hakikatnya persepsi adalah suatu proses yang memungkinkan kita mengorganisir informasi dan menginterpretasikan kesan terhadap lingkungan sekitarnya.

B.     Faktor Memengaruhi Persepsi


Orang-orang dapat melihat pada sesuatu yang sama, namu merasakan hal yang berbeda. Ada beberapa faktor yang membentuk dan kadang-kadang mendistorsi persepsi. Faktor tersebut adalah the perceiver, the object ata the target yang dirasakan dan konteks the situation di mana persepsi dibuat. Factor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut diikemukakan oleh Robbins dan Judge bahwa persepsi dibentuk oleh tiga faktor, yaitu: (1) perceiver, orang yang memberikan persepsi, (2) target, orang atau objek yang menjadi sasaran persepsi, dan (3) situasi, keadaan pada saat persepsi dilakukan.

Faktor perceiver mengandung komponen: (a) attitutes (sikap), (b) motives (motif), (c) interest (minat atau kepentingan), (d) experience (pengalaman), dan (e) expectations (harapan). Faktor target mengandung komponen: (a) novelty (sesuatu yang baru), (b) motion (gerakan), (c) sounds (suara), (d) size (besaran atau ukuran), (e) background (latar belakang), (f) proximity (kedekatan), dan (g) similarity (kesamaan). Sedangkan faktor situasi mengandung komponen: (a) time (waktu), (b) work setting (pengaturan kerja), dan (c) social setting (pengaturan sosial).

Apabila kita melihat target dan berusaha menginterpretasikan apa yang kita lihat, interpretasi kita sangat dipengaruhi oleh karakteristik personal kita. Karakteristik yang mempengaruhi persepsi kita termasuk sikap, kepribadian, motif, kepentingan, pengalaman masa lalu, dan harapan. Sebaliknya, karakteristik dari target yang kita amati juga memengaruhi apa yang kita rasakan. Orang yang suka berbicara keras mungkin akan lebih diperhatikan oleh kelompok daripada orang yang pendiam. Demikian juga orang yang sangat menarik dan tidak. Karena kita tidak menempatkan target dalam isolasi, hubungan antara target dan latar belakangnya juga memengaruhi persepsi.

Konteks juga penting. Pada waktu kita melihat objek atau kejadian, dapat memengaruhi perhatian kita, seperti lokasi, sinar, panas, atau setiap sumber faktor situasional. Walaupun perceiver dan target tidak berubah, situasi dapat berubah.

C.    Proses Persepsi


Persepsi terjadi melalui suatu proses, dimulai ketika dorongan diterima melalui pengertian kita. Kebanyakan dorongan yang menyerang pengertian kita disaring, sisanya diorganisir dan diinterpretasikan. Proses yang menyertai pada beberapa informasi yang diterima oleh pikiran kita dan mengabaikan informasi lainnya dinamakan selective attention atau selective perception. Selective attention dipengaruhi oleh karakteristik orang atau objek yang dipersepsikan, terutama besaran, intensitas, gerakan, pengulangan, dan keaslian. Selective attention dipicu oleh sesuatu atau orang yang mungkin di luar konteks, seperti mendengar seseorang berbicara dengan aksen asing. 

D.    Teori Atribusi/Kelley’s Model

Apabila kita mengamati orang, kita berusaha menjelaskan mengapa mereka berperilaku dengan cara tertentu. Persepsi dan pertimbangan kita terhadap tindakan orang akan sangat dipengaruhi oleh asumsi yang kita buat tentang keadaan internal orang. Teori atribusi berusaha menjelaskan cara kita mempertimbangkan orang secara berbeda, tergantung dari arti atau makna yang kita hubungkan pada perilaku tertentu. Apabila kita mengamati perilaku individu, kita berusaha mempertimbangkan apakah disebabkan oleh faktor internal atau eksternal.

Perilaku yang disebabkan faktor internal adalah faktor yang kita yakini di bawah control pribadi individu. Sedangkan perilaku yang disebabkan faktor eksternal adalah apabila yang kita bayangkan adalah situasi memaksa individu melakukannya. Tetapi pertimbangan terutama bergantung pada tiga faktor, yaitu: (a) distinctiveness, menunjukkan bahwa individu berperilaku berbeda dalam situasi yang berbeda, (b) consensus, menunjukkan bahwa individu menghadapi situasi yang sama dan merespon dengan cara yang sama, dan (c) consistency, tindakan orang akan terjadi apabila orang merespon dengan cara yang sama sepanjang waktu.
                                  
Proses atribusi adalah proses persepsi dalam menentukan apakah perilaku atau kejadian yang diamati disebabkan untuk sebagian besar oleh faktor internal atau eksternal. Sebagai faktor internal termasuk kemampuan dan motivasi orang, sedangkan faktor eksternal termasuk kekurangan sumber daya, orang lain, atau hanya keberuntungan. Sebagai contoh, apabila rekan kerja kita tidak hadir ketika rapat, kita dapat menduga sebagai atribusi internal, seperti rekan kerja kita lupa, kekurangan motivasi atau sebagai atribusi eksternal, seperti kemacetan, emergensi urusan keluarga, atau situasi yang menyebabkan ketidakhadiran.

Atribusi merupakan proses persepsi yang penting karena membentuk hubungan sebab-akibat, dan pada gilirannya memengaruhi bagaimana kita merespon perilaku orang lain dan bagaimana kita bertindak di waktu yang akan datang. Bagaimana kita bereaksi terhadap kinerja buruk rekan kerja tergantung pada atribusi internal dan eksternal kita terhadap kinerja tersebut.

A.    Kesalahan Atribusi

Kebanyakan orang tidak sempurna dalam membuat atribusi. Bias yang terjadi dinamakan Fundamental Atribution Error, yang menunjukkan kecenderungan kita untuk melihat orang daripada situasi sebagai penyebab utama perilaku orang. Apabila pekerja terlambat bekerja, pengamat lebih suka menyimpulkan bahwa orang tersebut malas daripada menyadari bahwa faktor eksternal mungkin menyebabkan perilaku tersebut. kesalahan atribusi mendasar terjadi karena pengamat tidak dapat dengan mudah melihat faktor eksternal yang membatasi perilaku seseorang. Kita tidak melihat kemacetan lalu lintas yang menyebabkan orang tersebut terlambat.

Kesalahan atribusi lain adalah Self-Serving Bias, yang merupakan kecenderungan menghubungkan hasil kita yang menyenangkan pada faktor internal dan kegagalan kita pada faktor eksternal. Secara sederhana, kita mengambil kredit atas keberhasilan kita dan menyalahkan orang lain atau situasi untuk kesalahan kita. Dalam laporan tahunan, misalnya, eksekutif terutama menunjukkan kualitas pribadi mereka sebagai alasan keberhasilan perusahaan dan pada faktor eksternal sebagai alas an untuk kegagalan perusahaan.

Folkman (2006: 25) menegaskan bahwa kita cenderung merasa bahwa apabila mengalami kegagalan adalah karena situasi. Tetapi kita melihat kegagalan orang lain adalah karena kurangnya usaha, kemampuan atau karakternya. Kenyataan tersebut kemungkinan tidak selalu benar dan menunjukkan kemungkinan kesalahan atribusi.

B.     Jalan Pintas dalam Mempertimbangkan Orang Lain

Seringkali kita menggunakan jalan pintas dalam mempertimbangkan orang lain. Teknik ini sering sangat berharga, karena memungkinkan kita membuat persepsi akurat dengan cepat dan memberikan data sahih untuk membuat prediksi. Tetapi hal ini tidak bebas dari kesalahan dan dapat membuat kita dalam kesulitan. Memahami jalan pintas ini dapat membantu untuk mengenal ketika hasilnya dapat membuat penyimpangan signifikan. Jalan pintas dalam mempertimbangankan orang lain tersebut dikenal dengan istilah Stereotyping.

 Greenberg dan Baron (2003: 44) memberikan pengertian stereotipe sebagai keyakinan bahwa semua anggota kelompok spesifik berbagi sifat yang sama dan cenderung berperilaku dengan cara yang sama. Pengertian senada diberikan oleh Kreitner dan Kinicki (2010: 193) yang menyatakan bahwa stereotipe adalah serangkaian keyakinan individu tentang karakteristik atau atribut dari suatu kelompok. Stereotipe tidak selalu negatif. Sedangkan McShane dan Von Glinow (2010: 72) memberikan definisi stereotyping adalah merupakan proses menetapkan sifat pada orang atas dasar keanggotaan mereka dalam kategori sosial.

Keyakinan bahwa insinyur adalah baik dalam matematika pasti merupakan bagian stereotype. Stereotype mungkin akurat atau tidak. Insinyur mungkin kenyataannya lebih baik dalam matematika daripada orang pada umumnya. Pada umumnya, karakteristik stereotype dipergunakan untuk membedakan kelompok orang tertentu dari kelompok lainnya.

Penting untuk diingat stereotype adalah komponen fundamental dari proses persepsi dan kita menggunakannya untuk membantu proses sejumlah besar informasi yang menghujani kita setiap hari. Karena bukannya immoral atau buruk mempunyai stereotype. Tetapi, penggunaan stereotype yang tidak tepat dapat membawa pada keputusan yang buruk, dapat menciptakan hambatan bagi wanita, orang tua, orang berwarna, dan orang tuna daksa, dan dapat merusak loyalitas dan kepuasan kerja.
Stereotype mengandung tiga elemen. Pertama, kita mengembangkan kategori social dan menempatkan sifat yang sulit untuk diamati. Misalnya mahasiswa membentuk stereotype bahwa guru besar adalah cerdas dan pelupa. Kedua, kita menempatkan orang pada satu atau lebih kategori social atas dasar informasi yang mudah diamati tentang mereka, seperti gender, penampilan atau lokasi fisik mereka. Ketiga, orang kelihatannya seperti menjadi bagian kelompok stereotype ditentukan sifat yang tidak dapat diamati berkaitan dengan kelompok.

Stereotype dilakukan melalui empat proses, yaitu:

1.      Mengkategorikan orang dalam kelompok menurut berbagai kriteria seperti: gender, umur, ras, dan pekerjaan.
2.      Menduga bahwa semua orang dalam kategori tertentu memiliki sifat atau karakteristik yang sama.
3.      Membentuk harapan terhadap orang lain dan menginterpretasikan perilaku mereka menurut stereotype kita.
4.      Stereotype dipelihara dengan (i) memperkirakan terlalu tinggi frekuensi perilaku stereotyping ditunjukkan oleh orang lain, (ii) menjelaskan secara tidak benar perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan, dan (iii) membedakan individu minoritas dari diri sendiri.

C.    Kesalahan Persepsi

Apabila seseorang melihat orang lain maka persepsinya terhadap orang tersebut mungkin saja salah atau keliru. Dalam hal demikian telah terjadi kesalahan persepsi. Di bawah ini kemungkinan bentuk kesalahan dalam persepsi kita terhadap seseorang:

1.      Fundamental Attribution Error
Merupakan kesalahan persepsi karena kecenderungan kita menghubungkan tindakan orang lain pada sebab internal seperti sifatnya, sementara untuk sebagian besar mengabaikan faktor eksternal yang mungkin juga mempengaruhi perilaku.

2.      Halo Effect
Merupakan kesalahan persepsi karena kesan umum kita tentang orang biasanya didasarkan pada satu karakteristik yang ditentukan sebelumnya, sehingga mewarnai persepsi kita terhadap karakteristik lain dari orang tersebut.
3.      Similar-to-me Effect
Kecenderungan orang merasa atau menganggap enteng atau ringan orang lain yang diyakini sama dengan dirinya dalam setiap cara yang berbeda. Sebaliknya, bias terjadi karena kecenderungan orang merasa lebih menyukai orang lain yang seperti mereka daripada mereka yang tidak sama.

4.      Selective Perception
Kecenderungan memfokus pada beberapa aspek lingkungan sementara itu mengabaikan yang lainnya.

5.      First-impression Error
Kecenderungan mendasarkan pertimbangan kita tentang orang lain pada kesan kita sebelumnya tentang mereka. Seringkali cara kita mempertimbangkan seseorang tidak didasarkan semata pada seberapa baik orang tersebut kinerjanya sekarang, tetapi pada pertimbangan awal kita terhadap individu tersebut.

6.      Primacy Effect
Merupakan kesalahan persepsi di mana kita secara cepat membentuk opini tentang orang atas dasar informasi pertama yang kita terima tentang mereka.

7.      Recency Effect
Merupakan kesalahan persepsi di mana informasi paling baru mendominasi perspsi kita terhadap orang lain.

8.      False-consensu Effect
Merupakan kesalahan persepsi di mana kita memperkirakan lebih tinggi terhadap orang lain yang mempunyai keyakinan dan karakteristik sama dengan kita.

9.      Lineancy Effect
Merupakan karakteristik personal yang mengarahkan individu untuk secara konsisten mengevaluasi orang atau objek lain dalam cara sangat positif.

10.  Central Tendency Effect
Merupaka kecenderungan menghindari semua pertimbangan ekstrem dam menilai orang atau objek sebagai rata-rata atau netral.

11.  Contrast Effect
Merupakan kecenderungam mengevaluasi orang atau objek dengan membandingkan mereka dengan karakteristik orang atau objek yang baru saja diamati.

D.    Memperbaiki Persepsi

Kita tidak dapat memintas atau memotong proses persepsi, tetapi harus berusaha untuk memperkecil bias dan distorsi yang ditimbulkan oleh persepsi. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan:

1.      Awareness of Perceptual Biases
Satu cara yang paling jelas dan luas dilakukan untuk mengurangi bias dalam proses persepsi adalah dengan menyadari bahwa bias memang terjadi. Kepedulian terhadap bias persepsi dapat menurunkan bias dengan membuat orang lebih sadar terhadap pikiran dan tindakannya. Tetapi kepedulian hanya mempunyai pengaruh terbatas.

2.      Improving Self-Awareness
Cara yang lebih kuat untuk memperkecil bias persepsi adalah membantu orang menjadi lebih peduli terhadap bias dalam keputusan dan perilakunya sendiri. Kita perlu memahami keyakinan, nila-nilai, dan sikap untuk terbuka dan tidak menyatakan pendapat terhadap orang lain.

3.      Meaningfull Interaction
Kepeduliaan diri dan saling pengertian dapat diperbaiki melalui meaningfull interaction, interaksi yang bermakna. Pernyataan ini didasarkan pada contact hypothesis yang menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu, orang saling berinteraksi satu sama lain akan berkurang rasa prasangka atau bias persepsinya. Interaksi yang bermakna tidak hanya menurunkan kepercayaan pada stereotipe, tetapi juga potensial memperbaiki empati terhadap orang lain, dan karenanya memahami dan sensitif pada perasaan, pikiran dan situasi orang lain.

E.     Aplikasi dalam Organisasi/Implikasi Manajerial

Orang dalam suatu organisasi selalu saling menilai. Manajer harus menilai kinerja pekerjannya. Kita menilai seberapa banyak usaha dilakukan rekan kerja kita untuk pekerjaannya. Apabila seseorang baru bergabung dalam tim, anggota yang lain segera membentuk pendapatnya tentang orang tersebut. Dalam banyak hal, pertimbangan kita mengandung banyak konsekuensi untuk organisasi.
Robbins dan Judge (2011: 208) berpendapat bahwa penggunaan jalan pintas persepsi dalam organisasi terjadi dalam kegiatan:

1.      Employment Interview
Kebanyakan di antara kita dalam menerima pekerjaan melalui wawancara. Tetapi pewawancara membuat pertimbangan bersifat persepsi yang sering tidak akurat dan membuat kesan awal dengan cepat menerobos. Apabila kesan pertama bersifat negative maka bobotnya cenderung menjadi lebih berat dalam wawancara daripada apabila informasi yang sama diperoleh belakangan.

2.      Performance Expectation
Orang berusaha memvalidasi persepsinya atas realitas bahkan ketika mereka salah. Perilaku orang ditentukan oleh harapan orang lain. Apabila manajer mengharapkan hal besar dari orangnya, mereka tidak mungkin menurunkannya. Sama halnya, apabila dia mengharapkan kerja minimal, mereka mungkin mencapai harapan yang rendah.

3.      Performance Evaluation
Evaluasi kerja sangat tergantung pada proses persepsi. Masa depan pekerjaan sangat terikat pada penilaian, promosi, kenaikan upah dan kelanjutan kerja adalah hasil yang nyata. Meskipun penilaian dilakukan secara objektif, banyak pekerjaan dalam terminology subjektif.

Sedangkan menurut Kreitner dan Kinicki (2010: 190) menunjukkan implikasi persepsi dalam masalah manajerial terdapat dalam kegiatan:

1.      Hiring
Pewawancara membuat keputusan berdasar pada kesan tentang bagaimana pelamar menyesuaikan dengan persyaratan pekerjaan yang dirasakan. Sayangnya, banyak keputusan dibuat berdasarkan implicit cognition. Implicit cognition mencerminkan setiap pemikiran atau keyakinan yang secara otomatis diaktifkan melalui memori tanpa kepedulian secara sadar.

2.      Performance Appraisal
Gambaran mental yang salah  tentang apa yang merupakan kinerja baik atau buruk dapat membawa penilaian kinerja tidak akurat, yang menggerogoti motivasi kerja, komitmen, dan loyalitas.

3.      Leadership
Evaluasi pekerjaan terhadap efektivitas pemimpin sangat dipengaruhi oleh pandangan mereka tentang pemimpin yang tidak baik atau buruk. Pemimpin akan menghadapi waktu yang sulit untuk memengaruhi pekerja apabila dia menunjukkan mengandung perilaku dalam pandangan pekerja tentang pemimpin yang buruk.

4.      Communication and Interpersonal Influence
Manajer perlu mengingat bahwa persepsi sosial adalah proses menyaring yang dapat mendistorsi komunikasi, baik yang masuk maupun yang keluar. Karena orang menginterpretasikan komunikasi lisan dan tertulis dengan menggunakan gambaran mental yang dikembangkan melalui pengalaman masa lalu, kemampuan kita memengaruhi orang lain dipengaruhi oleh informasi terdapat dalam gambaran orang lain berdasarkan umur, gender, etnis, penampilan, pidato, kebiasaan, kepribadian, dan karakteristik personal lainnya.

5.      Counterproductive Work Behaviors
Pekerja menunjukka berbagai perilaku kerja kontra produktif ketika merasa bahwa mereka diperlakukan tidak adil. Sangat penting bagi manajer memperlakukan pekerja secara jujur, dengan mengingat bahwa persepsi tentang kejujuran adalah dilihat mata.

6.      Physical and Psychological Well-Being
Bias yang bersifat negatif dapat mengarah baik pada masalah fisik maupun psikologis. Persepsi tentang ketakutan, menyakiti, dan kegelisahan berkaitan dengan serangan terhadap kesakitan, kemangkiran, dan keinginan untuk keluar. Kita harus berusaha menghindari kecenderungan memberikan perhatian terlalu banyak terhadap pemikiran negatif.

7.      Designing Web Page
Penelitian mulai menggali apa yang menarik perhatian pemirsa pada web page dengan menggunakan peralatan eye-tracking canggih. Penelitian ini membantu organisasi mengeluarkan uangnya dengan bijak ketika merancang web page.

resume buku sistem informasi manajemen

Tugas individu
RESUME SIM

ERNA NURI WIDIASTUTI
AP 01
1343040001

ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
  2015




Resume SIM

  1.       Sistem informasi manajemen adalah perpaduan antara sumber daya manusia dan teknologi informasi untuk memudahkan seseorang dalam pengumpulan data-data sebelum pengambilan keputusan. Sistem informasi manajemen sangatlah penting bagi sebuah organisasi dalam aspek pemenuhan data-data yang butuhkan oleh organisasi baik dalam setiap program yang di yang dibuat oleh orgaisasi maupun sampai pada saat pengambilan keputusan.
  2.       Tekologi informasi untuk keunggulan bersaing lembaga pendidikan karena teknologi informasi merupakan tempat atau wadah organisasi dalam mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan organisasi kedepannya. lembaga pendidikan juga tidak pernah terpisah dengan teknologi informasi di setiap aktivitasnya dan adanya ketergantunngan yang kuat  antara lembaga pedidikan dengan teknologi informasi untuk mengikuti perkembangan zaman. Serta dengan adanya teknologi informasi di dalam lembaga pnedidikan akan membantu lembaga pendidikan untuk bersaing dengan lembaga pendidikan yang lainnya.
  3.       Strategi manajemen pendidikan yang berbasis masa depan, strategi yang perlu dilakukan oleh pendidikan yang berfokus pada masa depan adalah ada kerja sama yang baik antara lembaga pedidikan yang satu dengan yang lain sehingga memudahkan bagi lembaga yang satunya ketika ada kekurangan dari aspek pendidikan yang dibutuhkan dimana ada hubunngan tolong manolong dalam mengemabangkan pendidikan dimasa depannya, dan  ada kelompok –kelompok yang menjadi sasaran khusus dari lembaga pendidikan maksudnya ialah lembaga pendidikan menetapkan sasaran tertentu untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas yang akan berdampak pada perubahan menuju masa depan. Adapun masalah-masalah yang dihadapi lembaga pendidikan  yaitu masalah yang ditimbulkan dari factor internal lembaga pendidikan itu sendiri  maksudnya ialah adanya ketidak serasian dalam pemahan, tidak kompak dalam melaksanakan tugas dan tidak satu dalam pancapaian tujuannya dan dari factor eksteranal lembaga pendidikan itu maksudnya ialah masalah yang dapt ditimbulkan dari asapek luar organisasi misalnya teknologi jika lembaga pendidikan tidak mampu mengoperasikan teknologi yang di sediakan oleh lembaga pendidikan maka akan menghambat lembaga pendidikan untuk melakukan katifitas ataupun program-progran yang telah di canangkannya..
  4.       Teknologi informasi dalam perspektif pendidikan, lembaga pedidikan melihat bahwa teknologi informasi sebagai alat yang sangat menarik untuk membuat operasional organisasi lebih efisien. Tujuannya adalah untuk memusnahkan komunikasi antar dua tempat yang berkepentingan saja, juga untuk mengahapuskan batas waktu yang digunakan untuk melakukan komunikasi maksudnya ialah komunikasi yang dijalin antara lembaga pendidikan dengan pelanggan tak terbatas oleh ruang dan waktu sehingga bisa kapan saja untuk mengonsultasikan setiap masalah yang terjadi pada pelanggan terkait hubungannya dengan lembaga pendidikan. Oleh karena itu lembaga pendidikan mampu melayanani pelanggan sacara efisien.
  5.       Aplikasi TQM dalam manajemen pendidikan, TQM adalah sebagai sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang beruapaya memaksimumkan daya saing melalui peyempurnaan secara terus menerus terkait dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkunga organisasi. berdasarkan hal ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa TQM merupakan sebuah program yang dibuat utuk melakukan sebuah perubahan secara terus menerus sesuai dengan perkembangan zamn dimana produk yang dihasilkan merupakan produk yang dinantikan atau peroduk yang dapat membantu pelanggan dalam menjalankan aktivitasnya, jasa yang senantiasa dibutuhkan dalam menghadapi setiap tantangan perkembangan zaman, melahirkan manusia yang berkualitas dalam pendidikan, memudahakn dalam prosesnya serta menyesuaikan dengan kebutuhan lingkungan organisasi.
  6.       Kerangka kerja tim dalam manajemen pendidikan, mulai dari transfornmasi individu menuju tim maksudnya ialah perubahan yang terjadi dimana seseorang yang biasanya mengerjakan segala sesuatu dengan hasil kerja sendiri manuju pada kerja sama di antara tim. Kemudian sampai pada Tim kerja lembaga pendidikan dalam revolusi informasi makasudnya adalah  ada tim khusus yang dibuat oleh lembaga pendidikan dalam melakukan perubahan terhadap informasi  maksudnya ialah tim kerja yang menyaring setiap infor masi yang akan di kelola kembali sebagai informasi yang baru bagi organisasi.
  7.       Peranan SIM dalam pengambilan keputusan bidang pendidikan, perannnya sangatlah penting karena sistem informasi manajemen merupakan sistem atau aplikasi informasi yang dikelola  ulang sehingga dengan mudah dalam pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam pengabilan keputusan organisasi kedepannya.